cerpen guweh


Dear Natly
Oleh Dewanty Asmaningrum

D
etik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam, jam berubah menjadi hari, dan kian hari bertambah hingga menjadi bulan, dan bulan tak pernah lelah untuk membuat sebuah tahun, namun disini, diriku, masih diam di detik pertama. Tertahan akan suatu perasaan. Persahabatan mungkin. Tapi entahlah, rasa ini seperti cinta. Cinta. Cinta. Dirinya.
Pukul 7.34 malam, dihari sabtu, suasana kali ini benar-benar tidak nyaman. Galau. Yang sekarang aku lakukan adalah twitteran dengan beratus-ratus twit galauku. Biasalah anak muda. Galau itu lumrah. Lagian sekarang adalah zaman gahoelnya nggalau.
Ditemani kopi yang sudah agak dingin dan diiringi lantunan lagu-lagu radio (radio tetangga sebelah), malam ini benar-benar galau. Oh ya, ditambah hujan rintik-rintik dan udara dingin sedikit hangat. Kamar ukuran 3 x 2,5 seraya cukup sekali untuk menyendiri.
Namun, perasaanku tambah kacau, ketika teringat Natly. Sahabat terdekatku. Paling dekat. Yang terkadang aku menganggapnya-sebagai-pacar. Tapi itu hanya anggapanku saja, toh sekarang dia sedang malam mingguan. Malam mingguan?, aku selalu benci sebutan itu.
Namaku Daniel. 20 tahun. Mahasiswa S-1 jurusan teknik elektro di salah satu universitas ternama di Bandung. Keseharianku, biasa saja seperti kebanyakan anak kuliahan, sedikit nakal dan humoris.
Natly cewek termanis, dia kuliah di jurusan hukum. Sahabat sejak SMP, cukup dekat, malah bisa dibilang dekat sekali. Namun kedekatan itu kami anggap (kami? Tepatnya dia) hanya sekedar sahabat. Just friend bro.
Aku tersadar dari lamunanku yang telah terbang kemana-mana dengan iringan nama Natly. Huh, lama-lama nyesek.
Lalu tiba-tiba ring tone HP ku meraung-raung, “cie ada sms, sms siapa tu, ciee”, haha ring tone pasaran. Aku buka tu, ternyata dari Natly, panjang umur dia baru aja dipikirin.
Bro, gilak ini tempat makan macam apa?. Keren bgt!!
Rendy jarang2 ngajak kesini. Coba kamu disini..wowww
Kira2 ngapain dia ngajak ksini ya bro? XD
Receive :
08:02:18 pm
Today
From:
Natly
+6285743202020



            Ah, kecewa. Patah hati. Pasrah deh. Mungkin Rendy mau nglamar. Oh no!!. lalu singkat aku balas.
      Mungkin dia mau nglamar :P
Natly balas lagi,
      Oh My God!! Aku belom siap…:O
      Eh.eh.dia datang. Ntar aku ceritain.
            Dan waktu-waktu seperti ini adalah waktu paling menyiksa. Aku tahu betapa sukanya Natly sama Rendy. Dia cinta banget, sebesar rasaku sama Natly. Sahabat memang boleh jadi cinta. Tapi jangan berharap endingnya bakal semanis yang diharapan. Itu pemahamanku.
            Lalu aku sign out twitterku.  Ambi jaket dan kunci motor. Ngomong-ngomong belom ganti celana. Ganti dulu. Trus kegarasi motor, ku pacu satria FU ku menembus kota bandung yang dingin menusuk. Setelah keliling-keliling, akhirnya berhenti juga didepan gedung sate. Tempat paling ngehe gitu.
            Namun disinipun sama aja tidak bisa menenangkan diri, yang didepanku semuanya ini, lagi pacaran. Oh..what the..!
            Dan setelah itu, berakhir juga disebuah kafe tak jauh dari gedung sate. Suasana remang-remang sedikit membuat perasaan tenang. Sembari menunggu pesanan, seorang penyanyi kafe duduk manis dengan gitarnya dan bilang,
“lagu ini sedikit menggambarkan perasaanku. Lagu 90-an, Novia K - Biar ku simpan rinduku “
Kesunyian ini meluruhkan air mataku
Jauh sudah perjalananku
Lelah hati ini menanti cinta yang tak pasti,
Kemanakan ku mencari
Cinta dalam dada membuat lara
Rindukan dirimu hanya membuat ku menangis
Biarlah hujan badai
Menghalangi cinta ini
Biarkanlah ku simpan rinduku
Hanya untukmu selamanya
Harus kesadari cinta tak slalu memiliki
Namun engkau slalu membayangiku
Dan aku hanya terdiam termangu, meresapi lirik lagu itu, walau aku baru pertama kali mendengar lagu ini tapi, entah kenapa lagu ini benar-benar masuk dalam diriku. Dan malam ini berlalu begitu saja. Biarlah rasa ini bernafas dengan sendirinya.
* * *
            4 hari terasa hampa. 4 hari pula aku nggak bertemu dengan Natly. Entahlah. Aku berjalan gontai kekampus.
“bro, lo kenapa? “, Tanya Steven si anak gahoel Jakarta.
“ gak papa “, tanpa semangat aku menjawabnya dan tetap berjalan kekelasku yang kira-kira 15 meter lagi.
“ muka lo kusut banget, kayak bakmi mbok Welas”, nggak ku kubris ejekan Steven ohang itu, dia malah tambah tertawa, terbahak-bahak lagi.
Hari yang benar-benar membosankan. Dan kurang lebih jam setengah tiga sore. Aku putusin untuk nongkrong di warung mbok Welas.
“ Mbok, mie rebus satu “,
“ oke boss! “ , jawaban khas mbok Welas. Dasar!
“ Galau ni yee..”, suara mbok Welas yang sok deket. Padahal emang deket. Mbok Welas ini seperti temen nggosip. Gubrak! Gimana ya, warung mbok welas ini merupakan sumber dari segala gosip-gosip dikampus. Entah dari ini yang baru deket sama ini, sampe dosen yang lagi pisah ranjang. Ada-ada saja.
Mie-ku datang. Langsung aja aku serbu. Lalu tiba-tiba datang reporternya mbok Welas yang mau laporan tentang gosip baru.
“ mbok, mbok tahu nggak yang namanya Natly anak Hukum?”, kata cewek itu dengan antusias. Natly?, Natlyku?, dia kena gossip juga?
“ tahulah, naun pisan?”,
“ aku denger-denger ya mbok, Natly teh diajak tidur sama pacarnya”, WHATTT???!!!!!. Mie-ku langsung keluar kemana-mana.
“NATLY??”, tanyaku dengan penuh ketidak percayaan. Aku benar-benar shock!.
“ iya, eh, bukannya kamu teh temannya?”,
“he’e aku temennya, trus dia gimana??”, perasaanku benar-benar kacau. Semua ini seperti boom.
“ Aku denger sih, dia teh dirumah terus, takut keluar”, tak sempat mie-ku habis, bayarpun belom, aku langsung berlari kemotorku, aku harus kerumah Natly. Bagaimana semua ini terjadi?, kenapa dia nggak bilang. Apa aku ini bukan teman curhatnya lagi?.
Sesampai didepan rumahnya Natly, untunglah disana ada om sama tante. Keadaan keduanyapun sangat memprihatinkan. Aku minta izin ketemu sama Natly. Lalu aku diperbolehkan. Aku masih tidak percaya semua ini.
“ Nat, kamu gimana? “, tanyaku penuh rasa kasihan melihat mukannya yang masih trauma.
“ Rendy berengsek!!!, Dan, kenapa kamu nggak datang kerestoran itu?”,
“sory tapi kamu nggak bilang”, Natly mulai menangis. Aku tak tega melihat semua ini. Rendy, kenapa kamu….
“ malam itu, aku benar-benar terbuai olehnya. Direstoran itu benar-benar romantis. Tapi, aku tidak menyadari kalo aku sudah dikasih obat tidur…Dannn…Rendy itu berengsek. Daniel, kenapa aku harus ketemu orang seperti itu? Kenapa Dan?”. Akupun tak bisa membendung air dimataku ini. Aku hanya bisa menepuk pungungnya.
“ bagaimana ini Dan?, semuanya berakhir, semuanya, orang-orang, masa depanku …kamu..apakah masih mau jadi sahabatku”. Ku tahu dia benar putus asa, dan disaat seperti ini aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Namun, satu kata untuk seseorang yang hanya menganggapku sahabat,
“ tenang Nat, aku masih disini, bersamamu”
You think I’d leave your side, baby. You know me better than that. You think I’d leave you down. When you’re down on your knees. I wouldn’t do that,…………………., When you’re last and you’re alone. And you can’t get back again. I will find you darling, And I will bring you home. And if you want to cry. I’m here to dry your eyes. And in no time you’ll be fine. Oh, when you cold. I’ll be there. Hold you tight to me. When you’re low I’ll be there. By your side Baby.         ( lagu “BY YOUR SIDE” SADE)
Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Semoga kamu bisa mendengar dan mengerti itu, bahwa aku akan selalu ada untukmu. Walaupun kau hanya anggap aku ini sebagai Sahabatmu saja. Sebenarnya, sahabatpun tak buruk untukku.
-       TAMAT   -

Comments

Popular posts from this blog

soal dan jawaban : Struktur & fungsi sel

Share : Dampak Perang Dunia II