cerpen II guweh


“ Kamu”
aku mencoba menembus malam minggu dengan hujan rintik-rintik kali ini. dengan motor kesayanganku satria Fu, aku mecoba sesegera keluar dari dingin yang menusuk ini. Tanganku mulai menggigil. Mukaku sudah basah dan terasa perih karena rintikan hujan yang terus berlawanan dengan arah motorku. 100 km/jam serasa belum cukup untuk menembus gelap rintik hujan ini. ku sabarkan hatiku. aku akan segera sampai. aku akan segera sampai. tanda reklame besar didepan sana, maka aku akan membelokan motorku kekiri, sedikit masuk jalan kecil, kira-kira 20 meter. maka aku akan menemukan sebuah cafe yang seperti rumah. hingga kelihatan hangat dari luar. aku lakukan itu.lalu aku mencoba mencari sela-sela tempat untuk parkir. namun ternyata susah aku cari. maklum, ini malam minggu, tempat ini pastilah ramai. lalu, yap! didekat honda vario orange keluaran baru ada sela yang aku pikir muat untuk motorku. dengan pelan-pelan aku mencoba memarkirkan motorku.kutaruh helmku.sedikit mengelap jaketku dan merapikan rambutku. ku buka pintu masuk itu. 
Aku cari sosok seorang gadis umur 20-an dengan kulit putihnya. Rambut sebahu dengan poni belah pinggir. Tinggi sekitar 167 cm, beda 12 cm dariku. Pakaian yang selalu dia pakai malam ini pastilah tak jauh beda dengan pakaian 2 minggu lalu. Blouse dengan celana pensil polos, tak lupa sepatu hak tingginya.
Aku putar mataku lalu aku berjalan melewati 5 meja dan disini aku sudah berdiri didepannya. Dengan senyum kedinginan aku coba sapa dia.
“hai, sori telat”, kataku dengan muka innoncent.
“gak papa. Makasih udah dateng”, jawabnya dengan muka seperti kecewa.
“jangan marah dong!”
“enggak…”
“kenapa sih?”, aku merasa bersalah.
“bukan kamu”
“lalu?, aaa….dia?”



“iya,….kayaknya dia gak dateng lagi” , muka kecewa benar-benar tersirat jelas diwajah cantiknya. Hal ini bukan barang pertama terjadi. Hal ini sering terjadi. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan dengan dia.
Karisa, yah..cewek yang aku pikir sebagai cewek yang sudah dewasa didepanku ini, selalu saja begini. Dia selalu memintaku datang di caffe ini malam minggu. Walau tidak setiap malam minggu. Setiap kali ketemu dia seperti sekarang ini, dia selalu kecewa, sedih. Aku jadi bersimpati padanya.
‘D’ adalah cowok yang bikin dia selalu menunggu penuh kecewa seperti ini. Aku hanya tahu inisialnya. Untuk muka dan perawakannya aku gak tahu. Karena aku belom pernah ketemu sekalipun dengannya. Karisa selalu menyembunyikannya dariku. 4 tahun aku bersama karisa, kira-kira sejak kelas 3 SMA, siapa dia, dimana dia kuliah, dimana dia tinggal, aku benar-benar tidak tahu. Karisa sudah suka sama dia sejak 4 tahun juga, namun aku benar-benar tidak tahu. Dia yang menganggapku sebagai sahabat tak mau memberi tahuku.dia selalu merahasiakannya. dan masalah karisa merahasiakan dia dariku aku juga tidak tahu. Entahlah, semuanya terlihat gelap.
“ Kenapa sih kamu nggak ninggalin dia aja? ”. tanyaku sedikit ketus, kesabaranku sudah mulai memudar dengan cowok itu. Bagaimana bisa dia membuat makuk cantik ini menunggu?. Apa dia tidak terlalu bodoh?.
“gak bisa!, dia terlalu banyak mengisi hatiku ini. Hatiku penuh olehnya”. Jawabnya penuh optimis.
“tapi,,,,dia gak selalu dateng!”.
“tenang dia pasti akan datang padaku”. Aku mulai kasihan padanya. Bagaimana mungkin ini terjadi.
“ bagaiman bisa kamu seyakin itu?. Dia gak pernah dateng. Mana? Aku dah lama sahabat sama kamu. Tapi aku gak pernah liat dia?. Kamu yakin? Kamu nggak dibohongin? Dia suka sama kamu nggak sih?”. Kata-kataku menguap begitu saja. Tanpa henti aku mengucapkannya. Karisa,,,kamu terlalu!.
“ karena aku sayang sama dia. Sayang banget!”. Dengan nada yang lembut, mata yang berbinar-binar, dan dia terlihat lebih cantik. Cantik. Dewasa. Elegant. Namun….seperti ada yang menusukku. Menusukku tepat di hatiku. Pernafasanku serasa tersumbat. Jantungku seperti mogok untuk berdetak. Otot-ototku melemas. Dan pikiranku, mulai tidak bekerja. Kosong. Lalu semakin lama,,semakin lama…jiwa ini seperti pergi dariku. Aku tak percaya itu. Kata-katanya barusan itu seperti berlari-lari dimataku. Semuanya menjadi gelap.
Kenapa kamu mengucapkan kata-kata sepedih itu padaku. Itu menyakitkan. Hatiku seperti runtuh sekarang ini.
Selama ini, aku mencoba untuk menuruti keinginanmu. Buka hanya karena kau menganggapku sahabat. Tapi, sedikit harapan untuk bersamamu. Melihatmu sudah cukup walau tak memiliki hatimu. Aku selalu menenangkan hatiku seperti itu. Karena banyak orang bilang, cinta tak harus memiliki. Dan cinta tak harus ending bersama. Aku sadari itu. Ada orang lain dihatimu. Ada yang mengikat hatimu. Dan itu sulit untuk aku lepaskan dan aku ikat.
Kata-katamu itu….. seperti telah meruntuhkan pertahananku.
Aku yang selalu ada untukmu, namun kenapa kamu memilih dengan orang yag entah siapa itu aku pun tak tahu sebagai orang dekatmu. Dia mengecewakanmu. Namun, kenapa kamu memilihnya. Tidakkah kau lihat? Aku ada didekatmu, selalu ada untukmu. Tapi kenapa?
Tahukah kamu? Kamu itu seperti mentari yang menghangatkanku. Bagaikan semilir angin yang merasuk diselah-selah panas tubuhku. Bagai air digurun pasir yang luas. Bagai lilin di gelapnya malam karena lampupun tak mampu menerangiku. Kamu segalanya bagiku. Namun, tidakkah kamu tahu itu? Aku menantimu.
Hatiku selalu kau buat menunggu. Kecewa karena waktu tidak memihak padaku saat-saat aku ingin mendengar “aku sayang kamu”. Kamu tidak pernah datang kehatiku. Kamu hanya sekedar peduli, namun kamu tak tahu……
Cowok yang menurutku dewasa dengan umur 21 tahun. Tingginya yang pasti tinggi dia. Kulit sawo matang. Yang selalu saja menurutiku……..
Aku menunggumu.
Aku menunggumu…
Mengucapkan…..
“aku sayang kamu”
Aku selalu menunggu itu. Hanya kata itu. Kata itu saja. Ucapkanlah didepanku. Setiap waktu aku selalu menunggu kata itu. Setiap detik, menit, jam aku selalu berfikir kapan kamu akan mengucapkan itu. Namun, detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam, hingga hari-hari berganti menjadi bertahun-tahun, kamu nggak pernah ngucapin itu. Susahkah untuk mengucapkan itu? Sesulit itukah?
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“ siapa sih dia?. Tanyaku dengan nada serius
“dia?’
“iya!”.
“dia sama seperti orang kebanyakan. Terlihat biasa. Namun, dia terlihat luar biasa bagiku.” Jawabnya jelas, tegas, dan mantap. Dan sekaligus meruntuhkan seluruh harapanku.
“kenapa kamu tidak pernah kasih lihat sama aku?”
“karena…, ngapain kamu Tanya kayak gitu?. Bukankah selam ini kamu tidak pernah peduli?”, tanyanya yang benar-benar salah paham.
“tidak pernah peduli?, lalu selama ini apa yang aku lakuin?. Setiap kamu punya date sama dia, kamu nyuruh aku datang karena dia gak datang. Apa aku kurang peduli?”. Aku coba mengatur nafasku, aku nggak ingin nyakitin dia dengan kata-kata pedas itu.
“jadi kamu nggak ikhlas?”
“ikhlas”
“lalu, kenapa kamu bilang seperti itu?”
“karena…aaaa…..”
“sudahlah ayo kita pulang saja,…Dewa”

Comments

Popular posts from this blog

soal dan jawaban : Struktur & fungsi sel

Pingin...