My Filosofi: Ego dan Proses

Hai sobat blogger,
Udah lama gak nge-blog nih, baru sibuk atau pura-pura sibuk aja.
Dua bulan tanpa postingan baru itu rasanya, I waste my time rit?
Jadi setelah memiliki sedikit topik(atas kegalauan dan kefrustasian ini), ada yang mau aku share.

Belakangan ini aku memasuki zona simpang siur, zona ngalor-ngidul, zona tak karuan. Pasalnya, beberapa bulan ini aku terus berpikir. Where should I place my self? Seperti apa aku harus memposisikan diri diantara diriku sendiri, keluarga, teman, dan lingkunganku. 
Dunia ini terus berputar, silih berganti dan perlu adaptasi lagi. Dan beberapa bulan belakangan jika boleh aku gambarkan oleh kata-kata Soe Hoek Gie,

"Waktu berjalan amat cepat dan kadang-kadang tidak terasa sama sekali, yang paling saya takutkan adalah bahwa saya akan terasing dan kesepian" 

Entah dalam konteks apa Gie mengatakan seperti itu(aku baru saja memulai membaca catatan hariannya, "Catatan Seorang Demonstran"). Namun yang pasti, kata-kata tersebut menggambarkan konteks yang aku yakini berkaitan semakna dengan kata-kata Gie tersebut. Dalam kontek ego. Garis bawahi kata "...saya terasing dan kesepian".

Kadang ego mengalahkan nalar. Kenapa begitu? Ya begitu yang aku rasakan. Ego membawa kita sok idealis, menginginkan sesuatu dengan sangat. Walau memang ego mempunyai dua face, dua sisi. Yaitu sisi negatif dan sisi positif. Sisi positif disebutnya passion atau parahnya lagi ambisius dan sisinegatifnya disebut gak tau diri.

Gak tau diri gimana? Saat kamu punya ego dan itu melahirkan suatu idealis omong kosong maka ego itu gak tau diri. Idealis omong kosong maksudnya idealismu kelewatan batas sama kerealistisanmu. Tapi emang lagi-lagi idealis punya dua wajah juga. Tapi yang aku bahas disini adalah sisi negatifnya, yeah i just melancholic. Saat kamu menghidupkan egomu dan kamu membahas idealismu terus menerus tanpa menumbuhkan basic mu, you just bullshit. Kenapa? Karena keidealistisanmu tak akan bertahan, kamu akan tergoyah, terkoyak dan akhirnya memulai dari NOL. Apa kamu menangkap apa yang aku katakan? Your choice.

Begitu aku membangun keidealistisanku dan aku terlalu terpesona dengannya. Aku meninggalkan siapa seharusnya aku(bukan pesimis). Aku hanya tidak bisa membawa basic ku berkembang. Dan di masa adaptasi(lagi) aku tergoyah. Aku sekarang dalam masa NOL. Jadi seharusnya ego+idealis+realis+basic harus berkembang bersama. Dan satu lagi, plus syukur. Karena dengan bersyukur kita dinetralisir dari segala macam perasaan dan pikiran.

Pikiranku terlalu sempit, ya tulisan diatas adalah pikiranku beberapa Minggu yang lalu. Thanks Lord, mengingatkanku bahwa seharusnya aku tak sesempit itu. So i decided, aku mempertahankan ideolodiku dan aku terus berproses dengannya hingga aku temukan keideologisan yang hakiki disamping kerealistisan.

Jika Anda bingung, intinya catatan ini hanya curhatan dan aku masih terselubung. Masih bingung? Segera tutup laman ini :)))

Aku ingin memberitahumu tentang filosofi hidup yang baru aku dapatkan, but hell i get lack of writing syndrome.

Comments

Popular posts from this blog

soal dan jawaban : Struktur & fungsi sel

Share : Dampak Perang Dunia II