Sebuah Harapan Baru di Tanah Daeng



Hari ini adalah tepat satu setengah bulan saya menghirup udara bukan di Pulau Jawa. Di Tanah yang berjarak dua jam dari Jogjakarta, rumah orang tua saya. Dan ternyata sama saja. Tak ada kendala perbedaan yang sangat siknifikan, kecuali bahasa daerah di tanah Daeng ini (maaf saya tidak bermaksud sara). Tapi overall okelah.



Berawal dari mata kuliah Seni Budaya yang kala itu saya dapatkan tugas untuk suku jawa dan suku Bugis-Mandar-Toraja-Makassar. Dimana saat itu saya sangat kepayahan untuk berlatih tarian 4 etnis yang sangat halus dan meliuk-liuk. Tak hayal teman saya yang berasal dari Makassar selalu meneriaki saya. Latihan hingga larut malam, ah bukan malam lagi, larut dini hari. Dan akhirnya berujung penampilan yang mendapati banyak tepuk tangan. Mungkin dari sinilah saya jatuh hati pada Tanah Daeng, Sulawesi terkhusus Makassar, yang menghantarkan saya mengetik "KPKNL Makassar" di pilihan pertama saya.

Namun, memang banyak pertimbangan dalam pemilihan penempatan ini. Bukan hanya perasaan sesaat. Saya menerawang beberapa tahun ke depan. Pertama, transportasi, ini hal yang utama. Saya cek penerbangan dan harganya. Saya kira untuk Makassar lumayan harganya (lumayan mahal huehehe). Oh ya, kenapa langsung cek transportasi untuk penerbangan? Karena angkatan kami akan disebar di seluruh Indonesia, kecuali Pulau Jawa. Untuk transportasinya di Makassar sendiri juga saya cek. Apakah ada ojek online? Itu hal yang utama karena saya belum berencana membeli motor. Di Makassar banyak angkot juga dan jalan rayanya besar-besar (tapi macet kek Jakarta ternyata). Kedua adalah ada dan tidaknya perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya (Kan gak mau D3 terus). Dan di Makassar banyak perguruan tinggi, jadi untuk masalah ini aman. ketiga adalah Biaya hidup. Kata orang di Makassar biaya hidupnya memang tinggi, tapi saya rasa dengan OJT satu tahun di Jakarta bisalah saya menyesuaikan diri. Kesimpulannya, jadilah oke Makassar saja.

Dua bulan yang lalu akhirnya pengumuman datang. Yang ditunggu-tunggu walau dengan berat hati meninggalkan teman-teman dan keluarga baru di masa OJT. Tegang tentu tegang. Satu per satu nama dipanggil. Urut sesuai abjad. Dewanty, yak cus maju ke depan. Pak Ses yang menyerahkan, salaman dan duduk kembali menunggu semua terpanggil. Lalu dibukalah amplop SK bersama-sama. Teman-teman mulai berteriak dan saya baru mau memulai membukanya. Dan yak "KPKNL Makassar" tertera dalam amplop itu. Alhamdulillah, walau beberapa minggu sebelumnya saya sempat galau ingin penempatan di tempat lain karena kepala kantornya seru dan saya kenal. Tapi Allah menakdirkan saya di pilihan pertama saya.


Tanggal dua Desember saya terbang ke Makassar. Panas, yang pertama diucap (mungkin karena setelah jarang mendapat sinar matahari di Jogja). Maka dimulailah kehidupan saya di Makassar. Datang ke kost, bersih-bersih, membeli beberapa keperluan, dan sedikit main. Tidak ada kendala berarti. Tapi tiba saatnya saya mulai merindukan teman-teman saya. Teman akrab yang dulu selalu mengajak nongkrong di warung kopi. Tidak saya temui lagi disini. Disitu saya merasa merindu. Tapi hidup harus terus diperjuangkan bukan? Saya butuh waktu beradaptasi, ya adaptasi dengan teman-temen baru. Dan harus cepat beradaptasi, jangan berlama-lama. 

Hal pertama yang saya sadari di Makassar adalah langitnya yang memesona (sebelum datangnya musim hujan). Sunset di Makassar tidak pernah mengecewakan, merah merona, cantik sekali. Dan di sini saya merasa damai. Hal kedua yang saya sadari adalah bahasa disini sangat berbeda dengan di Tanah Jawa. Orang disini seperti berteriak-teriak dan cepat kalau berbicara. Awal-awal saya cuma ha heh ha heh saja, tidak paham. Hal ketiga yang saya sadari adalah makanan disini asam-asam. Semua makanan memakai jeruk nipis, mau nasi goreng, ayam goreng, sup, ikan, daging dll. Dimana lidah saya terbiasa dengan yang gurih-gurih bukan asam. Hal keempat yang saya sadari adalah ojek online disini jarang memakai atribut, mungkin karena masih sensitif dengan ojek pangkalan, mungkin. 




Lalu bagaimana dengan kantor? Saya seseorang anak akuntansi yang dulu PKL di KPP Pratama dan yang OJT di Kantor pusat yang notabene belum pernah mencicipi KPKNL, cukup kaget. Begini ternyata KPKNL, saya belajar kurang lebih dari nol karena memang berbeda dengan kantor pusat. Tapi overall dengan pengalaman OJT saya cukup cepat untuk beradaptasi. Apalagi pegawai-pegawai disini asik-asik, ramah-ramah, mau memulai membuat percakapan dengan anak baru, mau mengajaki anak baru keluar makan, mau mengajari, mau bercanda, ya overall tidak ada masalah. Aman terkendali. Namun begitu, saya akan selalu berproses untuk memantaskan diri bekerja di tempat sekeren ini. Dan lagi-lagi hidup harus diperjuangkan kalau ingin dimenangkan. Serta "the beginning is always the hardest, so stay strong, don't give up".




Jadi, di tanah Daeng ini saya memiliki harapan baru untuk berkembang dan akan terus berjuang. Belajar memantaskan diri dan mencoba bekerja sepenuh hati. Berusaha mengembalikan investasi negara yang dulu pernah diberikan kepada saya saat kuliah. Berusaha tidak menyia-nyiakan seperserpun uang yang dikeluarkan rakyat untuk pajak. Menjaga integritas dan tidak pernah melukai hati nurani. Terakhir seperti kata ibu Sri Mulyani, "Jangan pernah lelah mencintai negeri ini".


Lapangan Karebosi

Monumen Pembebasan Irian Barat



Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

1 comments:

  1. "Orang disini seperti berteriak-teriak dan cepat kalau berbicara. Awal-awal saya cuma ha heh ha heh saja, tidak paham" hehe lucu aja dengernya. Kalau dibalik orang Makassar yang awal-awal pertama menginjakkan kaki di Jogja pun juga bakal ha heh ha heh juga menyikapi pembicaraan yang memakai bahasa jawa dan terkesan lemah lembut jika bertutur kata :D

    Oke semangat untuk terus berjuang Dewanty, gapai harapan-harapan barumu di tanah Daeng :)

    ReplyDelete