Aku dan Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Buru-nya



Kali pertama kenal nama Pramoedya Ananta Toer waktu kelas XI SMA. Guru Bahasa Indonesia menyuruh membuat power point biografi tokoh sastra Indonesia. Waktu itu, guru bahasa Indonesiaku pernah mengatakan Pramoedya Ananta Toer. Alhasil aku bikin Biografi Pram. Setelah itu sok-sok kenal dan nge-fans Pram. Aku follow itu twitter Pram(bukan Official). Sok-sok nge-favorite dan nge-Retweet quote-quote nya. Sampai kuliah pun masih sok-sok kenal Pram. Kerap kali ke toko buku bajakn pengen beli buku-bukunya, tapi gak jadi-jadi mulu. Dan Baru akhir 2014 kesampaian beli! Yang pertama aku beli adalah Anak Semua Bangsa, sebuah kesalahan! Harusnya Bumi Manusia dulu. Lagi-lagi sok kenal dan sok nge-fans! Anak Semua Bangsa aku habisin dalam waktu kurang lebih 4 hari. Habis itu langsung borong ketiga buku sisanya; Bumi Manusia, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dan keseluruhan aku membutuhkan satu bulan untuk melahap Tetralogi Buru. Waktu membacanya sering aku berpikiran, "kenapa gak dari dulu baca? Kenapa gak dari dulu SMP bacanya?". Ya, ada semacam penyesalan karena terasa telat membacanya. Coba kalau aku baca waktu jaman sekolah, mungkin akan lebih berguna.


Ada yang unik dari Tetralogi Buru ini. Tidak seperti buku-buku "sejarah" lainnya. Tidak seperti buku-buku paket Sejarah dari SD-SMA. Tetralogi ini mengalir begitu saja, lebih mudah dipahami dengan bahasanya yang ke-sastra-an dan tidak berbelit. Dengan alur yang tidak mudah ditebak, setiap halamannya membuat penasaran. Quote-quote berhamburan, yang menjadikan semacam motivasi tersendiri.

Tetralogi ini secara implisit memang seperti buku sejarah. Namun perlu diketahui bahwa Tetralogi Buru ini adalah sebuah Roman. Roman[n] karangan prosa yg melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Dari beberapa sumber Tetralogi Buru ini menceritakan R.M Tirto Adisuryo(Minke), bapak pers Indonesia, pria kelahiran Blitar. Beliau adalah pendiri surat kabar Medan dan pendiri Sarekat Priyayi. Lebih jelasnya silakan cari di Google.

Yang unik dari Tetralogi Buru ini adalah bacaan yang menyusup alam bawah sadar. Kenapa begitu? Karena setelah membaca lembar demi lembar tak jarang sampai terbawa mimpi. Anggapanku juga karena bacaan ini lumayan berat. Dan itu terbukti tidak hanya aku saja yang mengalami hal tersebut, temanku juga.

Oke, langsung saja jangan berlama-lama segera masuk ke Tetralogi Buru ini. Oh ya, aku akan lebih menceritakan dari sisi "Tetralogi Buru" bukan "Pramoedya Ananta Toer" itu siapa. Secara garis besar roman ini menceritakan permunculan pergerakan dan organisasi pribumi pada era 1898-1918.

Bumi Manusia


"ORANG MEMANGGIL AKU: MINKE!
Ya, pada buku ini diawali dengan pengenalan tokoh utama. Minke. Yang diplesetkan dari kata monkey. Dan nama itu menjadi namanya. Penulis tidak menyebutkan nama asli tokoh Minke ini. Minke adalah seorang pribumi yang mempunyai hak extrobit(persamaan di depan hukum dengan orang Belanda). Dia berada dalam kalangan atas pribumi, Raden Mas Minke. Orang pribumi yang sekolah di sekolah orang Belanda, orang pribumi yang berdandan seperti orang Eropa dan berpikiran seperti bukan umumnya pribumi. Ya, anak ini telah beberapa langkah di depan pribumi bangsanya. Minke yang mempunyai tanggal kelahiran sama dengan Sri Ratu Welhelmina, tetapi beda nasib. Saat Sri Ratu sudah naik tahta, Minke masih berkutat di lingkungan terbelakang bangsanya. Minke ini mempunyai keunikan dalam berpikir. Dia tidak suka direndahkan seperti jalan menyembah saat ingin bertemu petinggi dan saat dia tidak suka diceramahi(menurut aku).

Seorang Minke yang sangat terkesan dengan Revolusi Prancis dan Jepang. Seorang yang mengagungkan Max Havelaar, sekaligus yang menjadi inspirasi Minke untuk memakai nama Max Totelaar dalam tulisan yang dai buat. Minke yang mengagumi Magda Peter, guru HBS nya yang baik hati. Itu sekilas tentang Minke.

Nah, di buku pertama ini sebenarnya lebih bergenre roman. Percintaannya dengan Annelis, anak dari Nyai Ontosoroh dan Maurits Malema. Dalam kisahnya, Annelis ini adalah wanita cantik yang kata Minke mengalahkan Sri Ratu. Dari oenggambarannya aku juga berpendapat sama. Namun yang disayangkan, Annelis ini sangat rapuh. Rapuh sekali hingga membuat aku agak dongkol. Mereka berakhir menikah setelah melalui masa-masa sulit. Minke hampir-hampir dikeluarkan dari HBS.

Buku pertama ini juga mengulas tentang "penyerahan" anak gadis dari penguasa pribumi dengan penguasa kompeni. Seperti Nyai Ontosoroh yang diserahkan kepada Maurits Mallema. Juga ada kisah lain dengan latarbelakang masalah yang sama. Orang-orang pribumi yang sudah mempunyai kursi di daerah tersebut akan rela memberikan anaknya demi kelangsungan kursi tersebut. Ya, Pribumi.

Cerita Nyai Ontosoroh yang sangat menyentuh dan memberikan kesan lebih. Nyai Ontosoroh ini ternyata malah terbebas dari keterbelakangan bangsanya setelah nikah dengan totok. Dia belajar banyak seperti baca, perusahaan, dll. Nyai Ontosoroh ini menjadi wanita yang lebih maju daripada kalangannya.

Bumi manusia menceritakan kesulitan-kesulitan Minke, anak yang belum mencapai 20 tahun ini telah mendapat begitu banyak terpaan. Masalah hukum tak luput melilitnya hingga akhir daripada buku ini. Namun di situlah aku mulai tertarik oleh Minke. Karakter dia yang kuat mampu menarik perhatian pembaca. Buku pertama ini buku yang paling tipis dan yang paling "ringan". Walau aku membacanya setelah Anak Semua Bangsa, kesan buku ini tidak menurun sama sekali.

Anak Semua Bangsa


Mama: Tahu kenapa mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari.

Buku kedua yang aku baca pertama. Mengisahkan sosok Minke yang mulai "memedulikan" pribumi dan bangsanya. Di mana dia mulai mencoba mengenal  bahasa melayu dalam tulisannya. Beberapa bab membahas kelanjutan kisah Annelise. Sebagaimana kita tau bahwa Annelise dibawa ke Eropa. Ya, Nyai Ontosoroh dan Minke telah dikalahkan hukum. Pada awal kisa Annelise ini diperkenalkan juga Robert Jan Dapperste teman H.B.S Minke yang secara diam-diam mengawasi Annelise selama perjalanan menuju Netherland.

Kisah Annelise ini yang membuatku sedikit jengkel. Kerapuhan Annelise sungguh disayangkan. Akhirnya pun tidak bahagia. Di dalam kapal Annelise hanya diam membisu tak peduli akan sakitnya. Ahkirnya dia meninggal di Netherland. Nyai dan Minke sungguh kehilangan.

Sosok Nyai Ontosoroh lumayan dominan dalam buku ini. Seorang nyai yang hebat di mata Minke. Seorang nyai yang hebat di mataku juga. Pemikirannya maju, lebih maju daripada perempuan biasa pribumi lainnya.

Anak Semua Bangsa ini juga menceritakan persetan Rubert Suurhof. Juga Robert Mallema yang menghilang kemana dan pada akhirnya ditemui kabarnya bahwa dia menjadi pelayar di kapal. Menceritakan kisah Jean Marais dengan perang Aceh nya. Juga diceritakannya Kou Ah Shou, seorang aktivis China yang ingin menyadarkan bangsanya.

Buku kedua ini menceritakan pula derita-derita Minke, ya terlalu banyak derita. Namun pada akhirnya Minke bisa bebas dari Wonokromo dan pergi ke Betawi untuk melanjutkan sekolah Dokter.

Juga menceritakan kisah Trunodongso, seorang pribumi yang dipaksa menjual tanahnya untuk dijadikan kebun tebu. Lewat Trunodongso ini Minke belajar mengenal bangsanya. Pada intinya, tokoh dalam buku ini mulai melakukan pergerakan terutama melawan hukum baik secara tulisan.


Jejak Langkah

Buku ketiga ini buku yang membuatku  semakin terkagum-kagum akan sosok Minke. Jiwanya besar dan pantas dihormati serta dijadikan guru.

Diawali dengan dilanjutkannya Minke bersekolah di STOVIA, sekolah calon dokter gubermen. Ya semacam doket pemerintah yang nantinya jadi PNS. STOVIA ini sekolah unggulan pada masa itu. Hanya lulusan-lulusan terbaik yang bisa masuk sini. Peratura-peraturan yang ada juga tak kalah unggul., super ketat. Dari pakaian sampai waktu main semuanya diatur. Minke yang biasanya memakai pakaian Eropa terpaksa mengenakan pakaian jawa tanpa beralas kaki pula. Pada bagian ini saya merasa kasihan, batin Minke berasa disiksa. Namun, kelebihan dari STOVIA ini adalah diberikannya uang pesangon tiap bulan. Cukup untuk keperluan pribadi maupun bisa disisihkan untuk diberikan orang tua.

Awal-awal masuk STOVIA Minke ini sudah membuat heboh pasalnya dia mendapat panggilan ke Kamar bola De Harmonie tempatnya orang-orang besar Belanda, pertemuan Tweede Kamer. Dipertemukannya Minke dengan Van Heutsz, yang sebentar lagi jadi Gubernur Jenderal Hindia. Aku hanya kagum dengannya, lewat tulisan dia bisa dikenal orang-orang seperti itu diumur yang muda pula. Dijaman sekarang aja masih jaranag anak Indonesia yang seperti itu apalagi jaman dahulu. Kehebatan-kehebatan Minke akan lebih banyak lagi dalam buku ketiga ini.

Minke keluar dari STOVIA dan meneruskan menulis. Ia mulai merintis organisasi yang bernama Syarikat Prijaji, yang nantinya menjadi SDI(syarikat Dagang Islam). Juga mendirikan surat kabar Medan Prijaji,surat kabar buatan pribumi yang pertama yang sangat terkenal dan diminati. Minke konsentrasi pada keduanya, memperluas dan memperbaiki di sana-sini. Hingga halanganpun menerjang. Ada saja yang tidak suka, dan lagi-lagi Robert Suurof. Goncangan terbesar saat dipuncak kejayaannya, Gubernur Jendral tidak suka dengan adanya pergerakan pribumi ini, Minke diculik dan dibuang ke Maluku.

Sudut kisan cinta Minke pada Jejak Langkah ini juga menambahi warna. Ia menikah lagi dengan seorang gadis China yang dahulu teman dekatnya Kou Ah Sou namanya Mei. Seorang guru dan aktivis China. Tapi Mei ini sakit-sakitan dan pada akhirnya meninggal. Kemudian saat dipuncak karirnya dia menikah lagi dengan princes Kasiruta, sosok perempuan tangguh. Namun, pada akhirnya Minke dan Princes ini terpisahkan juga.

Rumah Kaca


Tokoh utama dalam buku keempat ini bukanlah Minke lagi, tetapi Pangemanann denga dua n. Sosok yang mengorganisasi pergerakan organisasi pribumi. Sosok yang pada akhir buku ketiga sebagai orang yang menangkap Minke dan menghancurkan segala-galanya. Sosok yang masih menyebut Minke sebagai gurunya.

Pangemanann ini adalah orang Maluku yang diadopsi oleh orang Prancis. Jadi pada dasarnya dia itu adalah pribumi, tetapi pribumi yang tidak seperti pribumi lainnya. Dia terlalu berada di bawah Gubernur Jenderal. Dia mengawasi bekas kerabat Minke, Syarikat Prijaji/SDI, Budi Otomo, Mas Cokro, Wardi, Marco, dll. Ya yang saya sebutkan itu masuk rumah kaca Pangemanann untuk diawasi. Semua pergerakan harus disesuaikan keinginan Gubernur Jenderal jangan sampai hal itu mengancam Belanda di Hindia.

Buku keempat adalah buku terlama membacanya dibanding buku sebelumnya. Perubahan sudut pandang orang pertama membuat aku kurang menikmati. Aku merindukan Minke dalam buku ini. Sosoknya hanya disebut satu dua kali, itu menyakitkan. Aku habiskan dalam 3 Minggu. Banyak bagian yang aku skip karena bosan dan tidak mengerti.

Dalam Rumah Kaca ini juga menyebutkan balada rumah tangga Pangemanann yang sebegitu berubahnya. Dia naik pangkat(sebagai pengawas pergerakan pribumi yang sebelumnya dia adalah polisi) dan itu membuat kepribadian Pangemanann berubah. Istrinya minta balik ke Eropa dan pada akhirnya dia hidup sendiri. Ya, apapun dengannya aku tidak peduli.

Pada akhir buku ini, dimunculkannya kembali Minke. Setelah 5 tahun dipembuangan akhirnya dia bebas dan kembali ke Betawi. Tapi kebebasan apalah kebebasan, dia tetap diawasi. Datang dengan kapal dia turun ke Surabaya. Ditemani Pangemanann(tentunya) dia berkeliling Surabaya. Bernostalgia dengan masa lalunya. Sedih cukup sedih aku membacanya. dari Krangan ke Wonokromo, dia seperti orang hilang. Pada akhirnya dia kembali ke kapal dan meneruskan ke Betawi. Di Betawi pun tak kalah mengharukan. Dia disuruh tandatangan surat perjanjian agak tidak berpolitik lagi, lagi-lagi. Namun dia tolak dan menyisakan pesuruh untuk membuntutinya. Dia mencari teman-temannya, dia ke kantor Medan Prijaji tapi tak dihasilkan apa-apa. Dia ke Bogor, kerumahnya, berharap bertemu istrinya tapi yang ditemuinya adalah Pangemanann(setelah naik pangkat Pangemanann meninggali ex-rumah Minke di Bogor). Dia kembali ke Betawi, mencari temannya, tapi tak dihasilkan apa-apa. Sungguh menyedihkan. Pada akhirnya dia bertemu seorang temannya tanpa sengaja dan dibawalah Minke ke rumahnya. Minke jatuh sakit. Berobatpun tetap diawasi. Dokter yang memeriksa Minke ditodong(oleh mata-mata/Pangemanann/Robert Suurof) untuk tidak mengatakan penyakitnya. Kondisinya memang buruk, dan akhirnya dia meninggal. Pada bagian ini aku tak kuasa menahan air mata. Sosok yang aku kagumi, dia meninggal dengan mengenaskan. Dunia terasa jahat padanya. Sungguh diusiannya yang masih muda dia harus mengalami semua ini.

Terakhir, Nyai Ontosoroh mecari Minke di Hindia, tapi kabar buruk yang diterimanya. Sungguh Pangemanann dan Belanda adalah tidak adil.

                                                                             --------

Penutup Tetralogi Buru ini sangat mengharukan. Jika aku mengingatnya itu masih terasa sedih. Ternyata sulit juga untuk menuliskannya kembali. Aku membutuhkan beberapa kali mengeditnya. Dan mungkin inipun belum selesai. Masih banyak hal menarik yang bisa diceritakan. Kekaguman aku pada Minke dan tokoh lainnya memberika pemikiran tersendiri. Sangat recommended untuk dibaca.

Kita temukan hal-hal baru dalam Tetralogi Buru ini. Sepenggal sejarah lewat roman. Sebuah pertanyaan-pertanyaan muncul apa benar ini terjadi. Apa benar begitu. Siapa dia. Kok bisa begini. Pertanyaan yang akan membuatmu penasaran akan sejarah awal mula pergerakan pribumi di Hindia ini.

Pramoedya Ananta Toer sukses menceritakan tokoh Minke ini. Lembar demi lembar yang membuat kagum dan pengetahuan baru. Pembawaannya yang enak untuk dimengerti. Kata-demi kata yang membuatsemakin menarik dan penasaran. Yang membuat aku ingin membaca buku-buku lainnya. Arus Balik, Gadis Pantai dan lain-lain.

“Terpelajar itu sudah harus adil semenjak dalam pikiran”
– Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Selama orang masih suka bekerja, dia masih suka hidup dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut.”
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah kaca

“Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya.”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Dan doa-doa itu, apa artinya dia kalau bukan gerakan dari minus ke plus- Tahu kau apa artinya doa- Permohonan pada Tuhan, gerakan dari yang paling minus pada yang paling plus.”
– Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

“Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Dari atas ke bawah yang ada adalah larangan, penindasan, perintah, semprotan, hinaan. Dari bawah ke atas yang ada adalah penjilatan, kepatuhan, dan perhambaan.”
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Kartini pernah mengatakan : mengarang adalah bekerja untuk keabadian.”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah—jalan ke arah kelestarian
– Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

“Kami memang orang miskin. Di mata orang kota kemiskinan itu kesalahan. Lupa mereka lauk yg dimakannya itu kerja kami.”
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan.”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan
– Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati. (Mama, 4)”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Semua yang terjadi d bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.”
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini”.”
– Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya
– Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.
– Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
– Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia


Sekian.
Salam.

Comments

  1. Kayaknya keren mbak Dewww. Leh uga kwkw

    ReplyDelete
  2. tulisan yang sangat bagus.. lanjutkan

    ReplyDelete
  3. Dulu belinya di daerah mana? Kalau inget, bisa tolong sebutkan nama tokonya. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku belinya di Kober Stasiun UI. Tiap toko aku rasa jual bukunya Pram. Sama belinya di Soping Jogja.

      Delete
  4. Kok saya biaa nyasar ke sini ya.
    Dasar Pramis.

    ReplyDelete
  5. Kayak nya ada yang salah dengan uraian tentang tokoh annelies, karena annelies bukan anak dari maurits melleme melainkan dari herman mellema

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

soal dan jawaban : Struktur & fungsi sel

Share : Dampak Perang Dunia II